Kemenangan Besar di Balik Kekalahan
Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6
Hijriyah, Nabi Muhammad saw. ketika hendak memasuki Masjidil Haram,
dihalang-halangi oleh orang-orang Quraisy. Nabi beserta rombongan
bermaksud melaksanakan ibadah Umrah. Perlakuan orang-orang Quraisy itu
tentu membuat gusar kaum muslimin. Niat ibadah yang mereka rencanakan,
terpaksa batal.
Rasulullah kemudian mencoba untuk
bernegosiasi dengan kaum Quraisy. Persoalan itu pun dapat diselesaikan
secara politik melalui sebuah perjanjian yang tercatat dalam sejarah
sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Dalam perjanjian tersebut, disepakati antara lain bahwa kaum muslimin
bersedia untuk tidak melaksanakan umrah kala itu dan baru bisa pada
tahun selanjutnya tanpa gangguan.
Tawaran itu disambut baik oleh
Rasulullah saw, meski kaum muslimin banyak yang tidak suka. Di antara
yang tidak bisa menerimanya adalah Umar bin Khattab. Mereka merasa bahwa
itu adalah sebuah kekalahan besar. Seharusnya, Rasulullah saw tidak
menerima kesepakatan itu dan tetap memaksa untuk masuk ke Mekkah untuk
umrah.
Ketika itulah turun firman Allah yang termaktub dalam surat Al-Fath ayat 1-3 sebagai berikut:
Melalui ayat ini, Allah mengatakan
kepada kaum muslimin ketika itu bahwa meski mereka kalah dalam satu hal,
yakni tidak bisa memasuki Mekkah untuk berumrah, namun sesungguhnya
mereka telah menang di sisi lain. Kemenangan tersebut adalah terwujudnya
perdamaian antara kaum muslimin dan Quraisy, sehingga di tahun-tahun
berikutnya mereka dapat memasuki kota Mekkah dengan mudah dan aman
sehingga dapat beribadah dengan nyaman.
Secara khusus, ayat ini memang turun
untuk peristiwa perjanjian Hudaibiyah tersebut. Namun, makna yang
terkandung di dalamnya berlaku umum untuk kehidupan kita di muka bumi
ini.
Kita barangkali sering mengalami
kekalahan atau kekecewaan dalam hidup. Bahkan, kekalahan tersebut
seringkali memposisikan kita dalam sebuah keadaan yang memalukan.
Misal, kita mengakui kesalahan yang
telah kita lakukan kepada orang banyak. Sikap ksatria itu kemudian
disikapi dengan kurang baik oleh mereka. Hinaan, cacian dan bahkan
pemutusan tali silaturrahim pun mereka hujamkan sebagai bentuk “hukuman”
atas kesalahan yang kita akui tersebut.
Kalahkah kita dalam kondisi itu?
Satu sisi memang iya. Tapi di sisi lain,
kita sesungguhnya telah memenangkan sebuah peperangan besar. Yakni,
perang melawan diri sendiri dengan berani mengakui kesalahan kita
tersebut. Menerima kenyataan bahwa kita telah berbuat salah, bukanlah
sebuah kekalahan, namun wujud dari kedewasaan dan kematangan pikir
maupun emosi.
Dengan menerima kekalahan tersebut
secara ikhlas dan sabar, maka Allah pun akan memberikan ampunanNya
kepada kita atas segala dosa yang telah dilakukan. Bonusnya adalah,
Allah akan memberi kita pertolongan yang banyak dalam menjalankan
kehidupan ini.
Hal ini jugalah yang terjadi pada kaum
muslimin pasca Perjanjian Hudaibiyah tersebut. Tahun-tahun selanjutnya,
kemenangan demi kemenangan mereka peroleh. Ketenangan dalam ibadah
mereka rasakan serta dapat berinteraksi dengan baik dengan kaum Quraisy.
Dengan demikian, proses dakwah pun berjalan dengan mudah.
Maka, belajar dari hikmah diturunkannya
QS. Al-Fath ayat 1-3 ini adalah hendaknya kita tetap bersabar dan ikhlas
menerima segala ketetapan yang Allah berikan kepada kita. Sebab, bisa
jadi di balik sebuah kekalahan yang kita rasakan, tersimpan sebuah
kemenangan besar bagi kita, terutama bagi jiwa dan keimanan kita.
Semoga bermanfaat
By: AJI MUSTAQIM PURHANDOKO
NO:05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar