Selasa, 22 Maret 2016

Kemenangan Besar di Balik Kekalahan

Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 Hijriyah, Nabi Muhammad saw. ketika hendak memasuki Masjidil Haram, dihalang-halangi oleh orang-orang Quraisy. Nabi beserta rombongan bermaksud melaksanakan ibadah Umrah. Perlakuan orang-orang Quraisy itu tentu membuat gusar kaum muslimin. Niat ibadah yang mereka rencanakan, terpaksa batal.
Rasulullah kemudian mencoba untuk bernegosiasi dengan kaum Quraisy. Persoalan itu pun dapat diselesaikan secara politik melalui sebuah perjanjian yang tercatat dalam sejarah sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut, disepakati antara lain bahwa kaum muslimin bersedia untuk tidak melaksanakan umrah kala itu dan baru bisa pada tahun selanjutnya tanpa gangguan.
Tawaran itu disambut baik oleh Rasulullah saw, meski kaum muslimin banyak yang tidak suka. Di antara yang tidak bisa menerimanya adalah Umar bin Khattab. Mereka merasa bahwa itu adalah sebuah kekalahan besar. Seharusnya, Rasulullah saw tidak menerima kesepakatan itu dan tetap memaksa untuk masuk ke Mekkah untuk umrah.
Ketika itulah turun firman Allah yang termaktub dalam surat Al-Fath ayat 1-3 sebagai berikut:alfath 1-3
kemenangan besar-03
Melalui ayat ini, Allah mengatakan kepada kaum muslimin ketika itu bahwa meski mereka kalah dalam satu hal, yakni tidak bisa memasuki Mekkah untuk berumrah, namun sesungguhnya mereka telah menang di sisi lain. Kemenangan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara kaum muslimin dan Quraisy, sehingga di tahun-tahun berikutnya mereka dapat memasuki kota Mekkah dengan mudah dan aman sehingga dapat beribadah dengan nyaman.
Secara khusus, ayat ini memang turun untuk peristiwa perjanjian Hudaibiyah tersebut. Namun, makna yang terkandung di dalamnya berlaku umum untuk kehidupan kita di muka bumi ini.
Kita barangkali sering mengalami kekalahan atau kekecewaan dalam hidup. Bahkan, kekalahan tersebut seringkali memposisikan kita dalam sebuah keadaan yang memalukan.
Misal, kita mengakui kesalahan yang telah kita lakukan kepada orang banyak. Sikap ksatria itu kemudian disikapi dengan kurang baik oleh mereka. Hinaan, cacian dan bahkan pemutusan tali silaturrahim pun mereka hujamkan sebagai bentuk “hukuman” atas kesalahan yang kita akui tersebut.
Kalahkah kita dalam kondisi itu?
Satu sisi memang iya. Tapi di sisi lain, kita sesungguhnya telah memenangkan sebuah peperangan besar. Yakni, perang melawan diri sendiri dengan berani mengakui kesalahan kita tersebut. Menerima kenyataan bahwa kita telah berbuat salah, bukanlah sebuah kekalahan, namun wujud dari kedewasaan dan kematangan pikir maupun emosi.
Dengan menerima kekalahan tersebut secara ikhlas dan sabar, maka Allah pun akan memberikan ampunanNya kepada kita atas segala dosa yang telah dilakukan. Bonusnya adalah, Allah akan memberi kita pertolongan yang banyak dalam menjalankan kehidupan ini.
Hal ini jugalah yang terjadi pada kaum muslimin pasca Perjanjian Hudaibiyah tersebut. Tahun-tahun selanjutnya, kemenangan demi kemenangan mereka peroleh. Ketenangan dalam ibadah mereka rasakan serta dapat berinteraksi dengan baik dengan kaum Quraisy. Dengan demikian, proses dakwah pun berjalan dengan mudah.
Maka, belajar dari hikmah diturunkannya QS. Al-Fath ayat 1-3 ini adalah hendaknya kita tetap bersabar dan ikhlas menerima segala ketetapan yang Allah berikan kepada kita. Sebab, bisa jadi di balik sebuah kekalahan yang kita rasakan, tersimpan sebuah kemenangan besar bagi kita, terutama bagi jiwa dan keimanan kita.
Semoga bermanfaat
:)   
By: AJI MUSTAQIM PURHANDOKO 
NO:05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar